Subuh Khamis 2 Oktober 2013, aku bertemu Nabi Musa Kalamullah. Selama ini aku hanya mendengar khabar cerita tentang rasulullah di perkampungan guru ku namun tidak pernah berkesempatan bertemu baginda.
Musa, sang pemegang Ilmu Kitab Taurat.
Dialah sang Raja-ku , yang selama ini aku hanya mengenali Nya pada nama dan di dalam zikir. Hari ini aku bertemu dengannya, bertentangan mata serta bercakap dengannya sejengkal jarak 2 kaki.
Aku ingati mimpi ini yang menyebabkan aku separuh kaku kesejukan saat bertemu Dia dan ini pastinya mimpi yang benar.
Aku berada di atas sebuah Jalan raya yang lebar seperti Highway. Sedang membawa kereta, aku melihat kenderaan yang begitu banyak tiba-tiba harus berhenti dan berhimpit seolah-olah seperti ada sekatan Jalan raya di hadapan. Aku menyelit kereta ku untuk maju ke hadapan. Dari kejauhan aku melihat cahaya putih sebesar besar cahaya di hadapan jalanraya dan semua kenderaan harus menempuhi cahaya tersebut.
Apabila kenderaan ku semakin dekat aku melihat ia sebenarnya satu sosok manusia yang bercahaya.
Aku tidak melihat jelas di saat ini kerna kereta ku masih jauh di belakang kereta yang lain. Semakin menghampiri cahaya itu, aku terus memotong line traffic dan memecut laju ke depan melepasi cahaya tersebut.
Dia seorang sosok cahaya yang berdiri, kelihatan memegang tongkat menghadapi arah kami. Hanya Dia seorang saja di sana, namun ketakutan semua yang membawa kenderaan masing-masing jelas kelihatan. Manusia takut untuk melintasi di depan-nya.
Aku melihat, apabila Dia mengangkat tongkat nya kearah kenderaan itu, pasti kereta mereka terpelanting satu persatu.
Ini bukan nya traffik yang biasa, tetapi traffik yang luar biasa. Samannya sehingga terpelanting mereka semua.
Aku memecut laju seolah-olah bisa melepasi kekuatan cahaya itu? Di dalam hatiku, bergetar. Siapakah sosok manusia yang hebat berkuasa itu?
Aku maju kehadapan untuk melihat dia dengan lebih dekat.
Aku memecut kereta ku terasa seperti telah melepasi-Nya, namun tiba-tiba Dia ku lihat berada di hadapan ku lagi. Aku cuba memotong sekali lagi, pecut sekuat hati. Aku berjaya kali ke-2. Namun, tiba-tiba Dia ku lihat masih berada di hadapan ku lagi. Bagaimana bisa Dia masih di hadapan ku sedangkan aku sudah dua kali melepasinya. Kemudian Dia mengangkat dan menuju tongkat-Nya kearah ku.
Aku terpelanting.
Tiba-tiba aku dapati diriku berada sejengkal 2 kaki dari sosok itu, berlutut aku dan tunduk badan mengangkat sembah.
Aku cuma sempat melihat mata-Nya, kerna hampir kesemua rambut , misai dan janggutnya yang putih melepak bak kapas itu menutupi wajah asalnya.
Rupanya Dia sosok seorang lelaki tua, rangka badan nya sedang-sedang kurus, tidak sebongkok mana , masih tegak, memakai jubah putih (dari jauh tadi jubah dan kulit nya bercahaya putih sebesar besar cahaya), rambutnya panjang dan putih bak kapas, misai dan janggutnya panjang meleret juga berwarna putih bak kapas (janggutnya lebih panjang dari ilustrasi gambar dibawah).
Dia memegang tongkat yang panjangnya kira-kira lebih tinggi dari ketinggiannya. Tongkatnya lurus berlekuk-lekuk, berwarna coklat kehitaman. Dia memegang tongkat itu di tengah, bukan di hujung. Tongkat itu tidak mencecah bumi.
‘Ampuni ku Ayah’, ‘Ampuni ku Ayah’, aku ulang 2 kali.
‘Aku tahu ku punya kesalahan’ (aku menyebut nama ku sendiri).
Aku melihat ada seorang lelaki bersama di sebelahku. Tidak pasti siapa. Dia kelihatan seperti lelaki cina. Lalu aku berkata, ‘kenapa dia ada di sebelahku?’ sambil kehairanan. Yang pastinya dalam kereta tadi tiada orang ini.
Nabi Musa menjawab (dalam English), ‘let him be here to listen and to learn’.
Kata-kata sosok cahaya ini sungguh lembut, tidak se-garang wajahnya. Disebalik mata-nya yang tajam, aku melihat senyuman.
Dia mengenali-ku. Dia senyum kepada-ku pabila aku menyebutnya ‘AYAH’.
Terkejut jaga dari tidur sebelum sempat Dia berkata-kata lagi.

Entah apa yang ingin Dia katakan kepada ku namun aku sudah mengaku salah di hadapan-Nya. Ku terjaga tepat jam 5.20 pagi. Badan ku kaku kesejukan lalu mengucap panjang dan istighfar.
Itulah Dia Sang Raja Musa Kalamullah. Raja yang memegang kunci Kitab Taurat.
Kamu merasakan mengambil hukum dan Ilmu dari Al Quran Namun Allah lebih mengetahui jika Ilmu itu dari Taurat Allah.
Ramai muslim percaya dan tahu kebenaran itu tetapi mereka tiada pengetahuan (ignorance).
Nabi Musa mengetahui anak-anaknya dan dia mempunyai akses kepada tablet buku amalan kamu di Lauhul Mahfudz. Mungkin orang Islam tidak mengetahui jika amalan mereka bisa saja sampai kepada rasul selain Nabi Muhammad.
Jalan yang kamu naiki adalah Jalan Nabi Musa tetapi kamu tiada mengetahui. Kamu kira itu agama? Hakikat nya itu adalah Jalan para rasul.
Musa juga menyebut diri nya ‘Rasulullah’ kepada umat manusia. Tanpa kamu ketahui tentang Musa, mungkin saja kamu sudah tersalah anggap Musa itu Muhammad. Musa memiliki dua pakaian, pakaian seorang jejaka muda dan pakaian seorang tua berjubah seperti yang ku lihat.
Salsilah dan darah manusia adalah jalur utama yang membawa amalan kita kepada nabi tersebut.
Walaupun agama Islam, namun jika bangsa mu Cina, hakikatnya kamu tiada sejarah nenek moyang dari bangsa Muhammad. Buku amalan tidak bisa berpindah milik. Hakikatnya, nenek moyang mu tidak pernah mencintai Nabi Muhammad.
Nah kembali kepada mimpi tadi, apakah sekatan Jalan raya itu adalah sebuah PENYAKSIAN?
Apakah Allah mengingini aku melihat Musa sebagai sosok tua yang berpakaian cahaya sebegitu yang berkuasa di langit? Langit ke berapakah itu yang telah aku sampai?
Apakah lelaki di sebelah ku adalah malaikat penjaga ku? Atau Khadam ku?
Kenapa dia sibuk sekali ingin mendengar bualan antara aku dan Musa.
Semalam, sebelum berlakunya mimpi ini, aku ada membuat satu perhitungan dengan Ilah ku. Aku mohon Allah perkenankan doa-ku dan dengar rintihan ku untuk satu perhitungan.
ngatkah pembaca, pernah aku ceritakan tentang hutang seorang peminjam yang lari dari hutangnya dan kemudian aku harus menanggung serta melangsaikan hutang tersebut sebagai Penjamin?
Hutang itu kini didalam proses pembayaran. Banyak sekali hutangnya, bukan 30 ribu, bukan 100 ribu… namun biarlah aku rahsiakan disini.
Kerna hati ku tidak ikhlas untuk membayar wang sebegitu banyak lalu ku berdoa kepada Allah dan membuat perhitungan agar Allah saja yang putuskan buat ku.
Perhitungannya adalah, untuk ku tuntut semua kebaikan dan PAHALA si peminjam sebagai tebusan pembayaran hutangnya di dunia.
Allah mendengar doa ku lalu Allah turunkan Nabi Musa untuk membuat sebuah perhitungan dengan ku.
Mimpi bertemu Musa Kalamullah adalah sebuah perhitungan. Namun ku pasti Allah mengingini supaya aku tahu bahwa sesungguhnya Allah lebih mengetahui.
Aku telah akui (confess) aku punya kesalahan di dunia, di depan Nabi Musa, Sang Raja yang menguasai sebahagian langit Allah. Aku mohon di terima dan di ampuni Allah supaya tiada sekatan buat Ruh menaiki Jalan yang tinggi.
Mimpi ini menceritakan tentang kepentingan mengakui kesalahan dan perhitungan sebelum dapat ku teruskan perjalanan.
Aneh dan pelik di setiap mimpi. Jika di-kaji mimpi-mimpiku yang terdahulu perihal nabi dan rasul, aku memanggil Nabi Muhammad sebagai ‘Awak’, Nabi Isa sebagai ‘Abang’, Nabi Adam sebagai ‘Bapa Ilmu Putih’, Siti Mariam sebagai ‘Bonda’, Nabi Musa sebagai ‘Ayah’ dan Iskandar Zulkarnain sebagai ‘Encik’.
Apakah ini semua punya maksud tertentu di dalam hubungan aku dengan mereka?
Aku melihat timeline kehidupan ku, mengenai pertemuan dengan para nabi.
Nabi Adam, rasool awalleen dan Nabi Muhammad, rasool akhireen.
Kenapa mereka berdua ku temui dulu?
Kemudian Allah memberi izin ku menatapi wajah Sang Raja Isa Ruhullah.
Sepertimana ku lihat dandanan rambut Bonda Maryam (4 in 1), ku yakini Sang Raja Isa ini akan turun membawa empat kitab pegangan kepada SATU Tuhan.
Rasul terakhir ku temui di saat tulisan ini dibukukan ialah Nabi Musa Kalamullah sebagai tanda pertemuan untuk sebuah perhitungan.
Sang Raja Ghaib yang garang mata-Nya dengan cahaya Allah. Masyaallah.
Mereka melihat ku di alam ghaib, mengetahui tentang ku sebelum aku kenali diri ku sendiri.
Pasti aku dicemburui oleh manusia dari empat agama Allah.
Aku telah bertemu dengan Rasul-Rasul mereka! Aku mengenali mereka dekat dan akrab.
Aku yakini jalan ini Ya Allah. Jalan yang telah membuka kunci hijab bertemu para rasul di langit Mu yang tinggi.
Andai aku NAFI petunjuk ku jadilah aku seorang kufur yang menolak petunjuk.
Wahai Tuhan, janganlah kiranya Engkau sekat amalan ku dan mengadakan penghalang dalam perjalanan ku menuju-Mu.
Benarkan aku lalui Jalan ini setelah aku bertemu Rasul-Rasul Mu, Tuan-Tuan Raja yang memiliki kuasa di kerajaan-Mu.
“Katakanlah aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaakub serta apa yang diberi kepada Musa dan Isa dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada Mu aku berserah “– al – Imran